Rindu yang menggebu
Nafsu yang menderu
Cinta yang berlalu
Serta sedih yang pilu
Perasaan-perasaan yang haru biru
Kukumpulkan ia dalam satu ruang
Galeri sakit jiwa
Seorang penyair yang pernah kutemui di kampusku
selalu berteriak seakan kerasukan
Atau hanya saja tidak ada pelampiasan yang cukup
memuaskan? pikirku
“Rindu-rindu yang kukirimkan padamu telah kau
kemanakan sayang? Aku rindu”
Aku rindu katanya.
Wanita yang sering bertatap mata denganku di depan
kantin kampus pun juga tidak kalah menyedihkan
“Kukorbankan jiwa dan ragaku untuk cinta semu. Apa
benar itu cinta atau nafsu?”
Cinta semu? Nafsu? Katanya
Aku juga mengenal seorang gadis
Adik kelas
Matanya bening dan senyum nya merona
Dia berkata “Ada hal-hal yang tidak bisa
kuselesaikan dalam sehari, seperti halnya mencintaimu. Telah ribuan hari
terlewati tetapi tetap saja cinta ini untukmu”
Kata-kata nya hampir sama mempesonanya dengan
matanya
Tapi setelah muncul yang lebih menggoda semua
berubah dusta
Semua berubah dusta, dusta dan dusta
Dusta ? bukan. Ini hanya peralihan rasa. Katanya
Dan seorang pria juga pernah bercerita
Tentang cintanya pula
Cintanya yang dipenuhi nelangsa
“aku mencintainya. Dia juga (Kurasa). Semua cintaku
kuserahkan, dan ditukarnya cintaku itu dengan nelangsa.”
Tidak ada cinta yang menghadirkan nelangsa,
teriakku.
Kau hanya bodoh dan sakit jiwa!
Aku, kau, dia, kita semua
Kita semua sakit jiwa!
Ia yang merindu disana, ia yang tertatih disana, ia
yang bercinta disana, ia yang kepalanya dipenuhi nafsu disana
Kita semua sakit jiwa
Kita semua sakit jiwa
Kemari
Dan diamlah
Biar kuperiksa
Disini
Di
Galeri
Sakit
Jiwa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar