Gumi
Sasak merupakan sebuah tempat bagi orang-orang Sasak menggantungkan harapan dan
kehidupannya. Di tanah tersebut, orang-orang Sasak melakukan serangkaian proses
kehidupan dari generasi ke generasi mempunyai budaya-budaya yang banyak nilai
positifnya dan melahirkan bagian-bagian penting yang harus diketahui oleh
generasi mudanya.
Piagam
Gumi Sasak tidak di cetuskan oleh segelintir orang dan dalam proses yang
singkat. Piagam Gumi Sasak lahir karena adanya masalah-masalah kebudayaan. Butuh
kerjasama dari berbagai pihak seperti tokoh-tokoh agama, budayawan, maupun
majelis adat dalam pembentukkannya.
Menurut Bapak Murahim, S.Pd., M.Pd. salah satu dosen
Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram, pada
awalnya budaya Sasak mempunyai sejarah yang dibolak-balik, diobrak-abrik oleh
kepentingan penguasa-penguasa. Kemudian, beberapa orang yang tergabung dalam lembaga
kebudayaan, termasuk beliau berinisiatif
untuk bagaimana memperbaiki hal tersebut. Bagaimana memperbaiki kondisi
sejarah Sasak yang sudah diobrak-abrik oleh kepentingan penguasa, kebudayaan
yang sudah melenceng dari arah sebenarnya. Seperti yang diketahui bahwa
praktek-praktek budaya disaat ini jalurnya dirasa tidak jelas. Siapa yang di ikuti? siapa leluhurnya? Artinya nilai-nilai kearifan lokal yang muncul dari
sumbernya pun menghilang karena tidak sesuai dengan sumber-sumber yang
seharusnya digunakan. Jadi, hal tersebut kemudian menimbulkan rasa tanggung jawab
untuk bagaimana memperbaiki hal tersebut, bagaimana mengarahkan budaya tersebut
pada hal yang seharusnya, dan itu tidak bisa beliau lakukan hanya dengan lembaga
beliau saja. Akhirnya beliau dan kawan-kawan bersepakat menemui para
tokoh-tokoh budaya, tokoh-tokoh agama, dan para penguasa resmi, dan kemudian
difasilitasi oleh Majelis Adat Sasak . Kemudian, disepakatilah untuk
mengeluarkan manifesto kebudayaan. Manifesto kebudayaan yang menyatakan
bagaimana jika kita melindungi sesuatu yang benar. Dan selanjutnya, manifesto tersebut
kemudian dibicarakan lagi . beberapa tokoh beranggapan bahwa kata manifesto
tidak cocok dengan budaya sasak. Bagaimana
ya? Apa ya? Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka lahirlah Piagam Gumi Sasak.
Berikut
adalah isi dari Piagam Gumi Sasak sebagai berikut;
Bismillahirrahmanirrahim
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah
yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang.
Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan
melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang
terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca
yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak
diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan,
mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan,
pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan
berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini.
Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan
kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa
ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak diantara bangsa-bangsa lain
dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan
hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai
berikut.
Pertama :
Berjuang
bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi
kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak
Kedua :
Berjuang
bersama memelihara, menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak
agar terpelihara kemurnian kebenarannya, kepatutan, dan keindahannya sesuai
dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang
bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya
kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dan menjunjung
tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang
bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat
untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang
bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa
dalam bingkai Negara Kesatuan Repuplik Indonesia.
Semoga
Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa
Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju
kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulud tahun
Jimawal/1437H
26 Desember 2015.
Ditandatangani bersama kami,
1.
Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Baiq Windia M. Si.
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin M. Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.
9.
Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.
10. Dr. H. Sudirman M. Pd.
11. Dr. H.L., Agus Fathurrahman
12. Mundzirin S.H.
13. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.
Pd.


