Rabu, 10 Januari 2018

Galeri Sakit Jiwa




Rindu yang menggebu
Nafsu yang menderu
Cinta yang berlalu
Serta sedih yang pilu
Perasaan-perasaan yang haru biru
Kukumpulkan ia dalam satu ruang
Galeri sakit jiwa

Seorang penyair yang pernah kutemui di kampusku selalu berteriak seakan kerasukan
Atau hanya saja tidak ada pelampiasan yang cukup memuaskan? pikirku
“Rindu-rindu yang kukirimkan padamu telah kau kemanakan sayang? Aku rindu”
Aku rindu katanya.

Wanita yang sering bertatap mata denganku di depan kantin kampus pun juga tidak kalah menyedihkan
“Kukorbankan jiwa dan ragaku untuk cinta semu. Apa benar itu cinta atau nafsu?”
Cinta semu? Nafsu? Katanya

Aku juga mengenal seorang gadis
Adik kelas
Matanya bening dan senyum nya merona
Dia berkata “Ada hal-hal yang tidak bisa kuselesaikan dalam sehari, seperti halnya mencintaimu. Telah ribuan hari terlewati tetapi tetap saja cinta ini untukmu”
Kata-kata nya hampir sama mempesonanya dengan matanya
Tapi setelah muncul yang lebih menggoda semua berubah dusta
Semua berubah dusta, dusta dan dusta
Dusta ? bukan. Ini hanya peralihan rasa. Katanya

Dan seorang pria juga pernah bercerita
Tentang cintanya pula
Cintanya yang dipenuhi nelangsa
“aku mencintainya. Dia juga (Kurasa). Semua cintaku kuserahkan, dan ditukarnya cintaku itu dengan nelangsa.”
Tidak ada cinta yang menghadirkan nelangsa, teriakku.
Kau hanya bodoh dan sakit jiwa!
Aku, kau, dia, kita semua
Kita semua sakit jiwa!

Ia yang merindu disana, ia yang tertatih disana, ia yang bercinta disana, ia yang kepalanya dipenuhi nafsu disana
Kita semua sakit jiwa
Kita semua sakit jiwa

Kemari
Dan diamlah
Biar kuperiksa
Disini
Di
Galeri
Sakit
Jiwa

Rabu, 27 Desember 2017

PIAGAM GUMI SASAK : Awal Mula Manifesto Budaya Sasak



Gumi Sasak merupakan sebuah tempat bagi orang-orang Sasak menggantungkan harapan dan kehidupannya. Di tanah tersebut, orang-orang Sasak melakukan serangkaian proses kehidupan dari generasi ke generasi mempunyai budaya-budaya yang banyak nilai positifnya dan melahirkan bagian-bagian penting yang harus diketahui oleh generasi mudanya.
Piagam Gumi Sasak tidak di cetuskan oleh segelintir orang dan dalam proses yang singkat. Piagam Gumi Sasak lahir karena adanya masalah-masalah kebudayaan. Butuh kerjasama dari berbagai pihak seperti tokoh-tokoh agama, budayawan, maupun majelis adat dalam pembentukkannya.
            Menurut Bapak Murahim, S.Pd., M.Pd. salah satu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia FKIP Universitas Mataram, pada awalnya budaya Sasak mempunyai sejarah yang dibolak-balik, diobrak-abrik oleh kepentingan penguasa-penguasa. Kemudian, beberapa orang yang tergabung dalam lembaga kebudayaan, termasuk beliau berinisiatif  untuk bagaimana memperbaiki hal tersebut. Bagaimana memperbaiki kondisi sejarah Sasak yang sudah diobrak-abrik oleh kepentingan penguasa, kebudayaan yang sudah melenceng dari arah sebenarnya. Seperti yang diketahui bahwa praktek-praktek budaya disaat ini  jalurnya dirasa tidak jelas. Siapa yang di ikuti? siapa leluhurnya? Artinya nilai-nilai kearifan lokal yang muncul dari sumbernya pun menghilang karena tidak sesuai dengan sumber-sumber yang seharusnya digunakan. Jadi, hal tersebut kemudian menimbulkan rasa tanggung jawab untuk bagaimana memperbaiki hal tersebut, bagaimana mengarahkan budaya tersebut pada hal yang seharusnya, dan itu tidak bisa beliau lakukan hanya dengan lembaga beliau saja. Akhirnya beliau dan kawan-kawan bersepakat menemui para tokoh-tokoh budaya, tokoh-tokoh agama, dan para penguasa resmi, dan kemudian difasilitasi oleh Majelis Adat Sasak . Kemudian, disepakatilah untuk mengeluarkan manifesto kebudayaan. Manifesto kebudayaan yang menyatakan bagaimana jika kita melindungi sesuatu yang benar. Dan selanjutnya, manifesto tersebut kemudian dibicarakan lagi . beberapa tokoh beranggapan bahwa kata manifesto tidak cocok dengan budaya sasak.  Bagaimana ya? Apa ya? Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka lahirlah Piagam Gumi Sasak.
Berikut adalah isi dari Piagam Gumi Sasak sebagai berikut;
                                               
Bismillahirrahmanirrahim

Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak diantara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai berikut.


Pertama :
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan  dan kehormatan budaya Sasak
Kedua :
Berjuang bersama memelihara, menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenarannya, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Repuplik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.

Mataram, 14 Mulud tahun Jimawal/1437H
26 Desember 2015.

Ditandatangani bersama kami,
1.  Drs. Lalu Azhar                            
2. Drs. H. Lalu Mujtahid                   
3. Drs. Lalu Baiq Windia M. Si.
4. TGH. Ahyar Abduh 
5. Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin M. Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.                  
9.  Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.            
10. Dr. H. Sudirman M. Pd.
11. Dr. H.L., Agus Fathurrahman
12. Mundzirin S.H.
13. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M. Pd.

 











Galeri Sakit Jiwa

Rindu yang menggebu Nafsu yang menderu Cinta yang berlalu Serta sedih yang pilu Perasaan-perasaan yang haru biru Kukumpul...